Firma riset Gartner Inc mengungkap pertarungan sengit tiga produsen ponsel dalam memperebutkan posisi terbesar ketiga dunia. Penelitian Gartner menemukan, penjualan ponsel global pada kuartal ketiga (Juli-September) 2008 mencapai 308,5 juta unit.

Volume penjualan itu mencerminkan pertumbuhan 6 persen dibandingkan pada kuartal ketiga 2007. Namun, angka pertumbuhan kuartal ketiga 2008 ternyata hanya kurang dari separuh pertumbuhan 16 persen yang terjadi pada kuartal ketiga 2007. Penurunan pertumbuhan menjadi digit tunggal tersebut adalah tanda bahwa krisis ekonomi memukul telak pasar ponsel global.

“Penjualan ponsel di negara maju dan negara berkembang melemah. Konsumen yang sudah memiliki ponsel enggan mengganti ponsel lama dengan ponsel baru. Pada saat yang sama, konsumen yang baru membeli ponsel pertama menjadi lebih selektif dalam memilih produk,” ujar Research Director Mobile Devices Gartner Inc Carolina Milanesi.

Pada kuartal ketiga 2008, pasar ponsel dunia masih didominasi Nokia Corp. Ini terjadi karena Nokia memiliki portofolio lengkap di kelas pemula, menengah, dan atas. Pada periode itu, Nokia mampu menjual 117,9 juta unit ponsel di dunia.

Pada kuartal ketiga 2008, Nokia mampu meningkatkan pangsa pasar global menjadi 38,2 persen, dari 37,8 persen pada kuartal ketiga 2007. Dengan pangsa pasar sebesar itu, Nokia mampu menekan harga produk serendah mungkin tanpa mengurangi profitabilitas karena volume penjualan Nokia sangat besar. Seperti pada peringkat pertama, peringkat kedua produsen ponsel terbesar dunia pada kuartal ketiga 2008 tidak berubah daripada kuartal-kuartal sebelumnya.

Posisi tersebut tetap diduduki Samsung Electronics Co Ltd. Posisi Samsung aman karena mampu menguasai pangsa pasar global 17,1 persen alias dua kali lebih besar daripada pangsa pasar produsen yang menduduki peringkat terbesar ketiga dunia. Bergeser ke peringkat ketiga, pertarungan sengit terjadi pada kuartal ketiga 2008. Posisi tersebut diperebutkan oleh tiga produsen ponsel yang sama-sama menghadapi masalah besar.

Mereka adalah Sony Ericsson Mobile Communications AB, Motorola Inc, dan LG Electronics Inc. ?Perebutan peringkat ketiga diwarnai pertarungan segitiga antara Sony Ericsson, Motorola, dan LG. Pada kuartal ketiga 2008, Sony Ericsson mampu merebut posisi terbesar ketiga dunia dari Motorola,? papar Milanesi. Di sepanjang sejarahnya, baru kali ini Sony Ericsson mampu merebut predikat produsen ponsel terbesar ketiga dunia.

Pada kuartal kedua (April-Juni) 2008, Sony Ericsson masih menduduki posisi terbesar kelima, di belakang Motorola dan LG. Namun, Gartner menilai, Sony Ericsson mampu menduduki posisi terbesar ketiga dunia bukan karena produsen ponsel itu mampu meningkatkan penjualan. Sony Ericsson menduduki peringkat ketiga karena penjualan Motorola dan LG semakin anjlok dan pada saat itu Sony Ericsson mampu mengerem penurunan penjualan menjadi lebih lambat daripada pesaing.

Terbukti, pada kuartal ketiga 2008 Sony Ericsson mampu mengerem penyusutan pangsa pasar global menjadi 8,1 persen, dari 8,7 persen pada kuartal ketiga 2007. Pada saat yang sama, pangsa pasar Motorola anjlok menjadi 8,0 persen, dari 13,0 persen pada kuartal ketiga 2007. Paling sial adalah LG. Sebab, Motorola runtuh menimpa LG sehingga LG tergusur dari peringkat empat menjadi lima. LG tidak bisa menghindari terjangan Motorola karena penjualan ponsel-ponsel kelas atas LG melemah.

Penyebabnya tentu krisis. Pada kuartal ketiga 2008, LG mampu menguasai pangsa pasar global 7,8 persen, lebih tinggi daripada pangsa pasar global 7,0 persen yang dikuasai LG pada kuartal ketiga 2007. Namun, pangsa pasar global LG pada kuartal ketiga 2008 ternyata turun dari 8,8 persen yang dikuasai LG pada kuartal kedua 2008. Pada kuartal ketiga 2008, LG hanya mampu menjual 24,1 juta unit ponsel di dunia, turun dari 26,7 juta unit ponsel yang berhasil dijual global oleh LG pada kuartal kedua 2008.

Gartner menegaskan, Sony Ericsson, Motorola, dan LG adalah tiga produsen ponsel yang menghadapi masalah sama besar dalam meningkatkan pangsa pasar. Motorola adalah produsen ponsel yang miskin inovasi. Adapun Sony Ericsson terlalu mengandalkan ponsel musik. Padahal, pemain di segmen itu sudah sangat banyak sehingga persaingan berlangsung sengit. Sementara LG terlalu mengandalkan ponsel-ponsel layar sentuh kelas atas dan miskin ponsel kelas pemula dan menengah.

Saat dunia dilanda krisis, Motorola sesungguhnya menghadapi masalah lebih besar daripada para pesaingnya. Bukan hanya karena Motorola tidak punya ponsel menarik, tetapi Motorola juga tidak akan mampu menekan harga serendah harga ponsel pesaing.

Sumber: OKEZONE.COM